Faktor-faktor penting menentukan Arus Kas

Artikel dikutip dari buku : Prinsip-prinsip Keuangan Korporasi ( Corporate Finance )

Penulis  : Hendra S Raharjaputra

Diposkan : 24 September 2011

Jangan ragu menentukan arus kas positif

Secara alami, banyak eksekutif keuangan merasa ragu menginvestasikan dananya kembali, ketika kondisi perekonomian atau bisnis dalam keadaan kurang baik. Misalkan; suatu group perusahaan, yang salah satu divisinya mengalamai kerugian, padahal dalam suatu kesempatan lain akan terjadi peluang berbeda yang merubah kondisi negatif  menjadi positif ( turn around opportunity ).

Tidak semua investasi yang dilakukan dalam kondisi perekonomian atau bisnis  sedang membaik akan berhasil, karena mungkin saja peluang tersebut sudah tidak ada.

Masukan semua yang mempengaruhi arus kas investasi, walaupun negatif

Apabila salah satu divisi mengalami kegagalan, bagi divisi lain mungkin akan menjadi efek positif. Misalkan; Salah satu perusahaan penambangan batu bara lokasi A di Kalimantan cadangannya sudah menurun, dan NPV nya pun terpengaruh, sementara lokasi lain B, yang dimiliki perusahaan cadangannya masih besar. Dengan perhitungan matang, misalkan; sewa alat berat dan peggunaan infrastruktur biayanya lebih ringan dengan mengoperasikan dua lokasi tersebut, biaya overhead menjadi lebih rendah, dikarenakan kapasitas lebih besar, maka akan mendongkrak  NPV  perusahaan secara menyeluruh.

Pahami dengan baik tentang modal kerja ( Net Working Capital )

Modal kerja bersih ( net working capital ) sering disebut hanya modal kerja ( working capital ) adalah selisih antara aktiva lancar  ( current assets ) dengan hutang lancar  ( current liabilities ). Aktiva lancar antara lain Kas dan setara kas, Piutang dagang, Persedian bahan baku & jadi, Biaya dibayar dimuka, sedangkan hutang lancar, antara lain hutang dagang, hutang gaji, pinjaman bank , 1 tahun, dan lainnya.  Dalam proyek sering dibutuhkan tambahan modal kerja, dan perlu dimasukan dalam proyeksi  arus kas ( cash flow forecast ). Pada akhir proyek, apabila modal kerja masih tersisa, maka akan diperhitungkan kembali sebagai arus kas-masuk (  cash inflow ).

Lupakan “ sunk costs “

Sunk Costs diibaratkan susu tumpah, biaya yang tidak perlu dingat-ingat kembali. Sunk costs merupakan arus kas keluar ( cash-out flow ) yang tidak dapat mempengaruhi keputusan suatu proyek,  harus diambil atau ditolak.  Contoh nyata dialami oleh Lockheed pada tahun 1971 yang mencari federal guarantee atas proyek pengembangan TriStar airplane. Lockheed telah mengeluarkan dana sebesar $1milyar. Menurut Lockheed sangatlah bodoh untuk membatalkan proyek yang telah menelan biaya $1 milyar, sementara kritik yang diterima Lockheed, alangkah sama bodohnya melanjutkan proyek tersebut. Kedua kelompok yang berpendapat  telah terjebak oleh “ sunk cost fallacy “.

Pertimbangkan biaya peluang ( Opportunity Costs )

Biaya peluang adalah merupakan hilangnya kesempatan lain, karena telah memilih salah satu kesempatan. Contoh; sebuah perusahaan membangun pabrik diatas tanah  sendiri , yang tanah tersebut memiliki nilai Rp.10 Milyar. Apabila perusahaan menjual tanah tersebut , dan uang tersebut diinvestasikan pada saham, maka diperkirakan setiap tahun perusahaan akan memperoleh pendapatan sebesar 24%. Karena perusahaan memilih untuk membangun pabrik, maka hilang kesempatan memperoleh dividend dan selisih harga saham ( capital gain ) sebesar 24% tersebut.

Hati-hati mengalokasilan biaya overhead

Seperti dikemukakan sebelumnya bahwa para akuntan perusahaan mengumpulkan data untuk menyusun laporan keuangan, agak berbeda dengan tujuan para analis investasi.  Masalah yang muncul adalah dalam hal menglokasikan biaya overhead, seperti; gaji pengawas, biaya sewa, penerangan, dan lainnya.  Biaya tersebut mungkin tidak memiliki hubungan langsung dengan proyek, tetapi dibayar perusahaan. Prinsip atas arus kas investasi menyatakan bahwa hanya biaya ekstra terhadap proyek langsung yang hanya boleh dibebankan. Menghadapi masalah ini para eksekutif keuangan harus hati-hati, karena akan mempengaruhi perhitungan arus kas ( Cash-Flow ).

Perhitungkan inflasi secara konsisiten

Tingkat bunga atau diskon sering kali menggunakan tingkat bunga nominal ( nominal rate ), daripada tingkat bunga riil ( real rate ). Misalkan, pemerintah menawarakan Surat Utang Negara sebesar Rp. 100 Milyar, para investor tentunya akan memeprtimbangkan faktor diskon atau tingkat  bunga yang dianggap “ fair “.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s