Mengapa harus Nilai dan Nilai— Untuk bertahan dalam krisis ( Bag I )

Tag : Corporate Finance

Diposkan : 11 Agustus 2011

Oleh : Hendra S Raharjaputra

Artikel ini dikutip dari Tim Koller, Marc Goedhart, dan  David Wessels, Valuation: Measuring and Managing the Value of Companies (fifth edition, Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, August 2010). Selain itu, Tim Koller adalah penulis bersama dengan  Richard Dobbs dan  Bill Huyett,   a forthcoming managers’ guide to value creation, titled Value: The Four Cornerstones of Corporate Finance (Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, October 2010). Copyright © 2010 McKinsey & Company. All rights reserved.

Dalam menjawab krisis ekonomi yang terjadi mulai tahun 2007 , beberapa pemikir serius telah saling berargumen bahwa idenya tentang “ ekonomi pasar” secara fundamental  harus dirubah, apabila tidak ingin lagi terjadi krisis yang sama  berikutnya. Sebelumnya teori keuangan diterima dengan mempromosikan suatu model baru, dengan aturan  lebih tegas, menata aktivitas yang harus dilakukan antara pemerintah dan investor, termasuk teori-teori ekonomi baru . Menurut pandangan saya ( Tim Koller ) , bagaimanapun tidak ada peraturan atau teori baru yang dapat mencegah ledakan ekonomi atau krisis ekonomi,   hal ini terjadi karena pada masa lampau telah terjadi secara luas bahwa perusahaan, investor, dan pemerintah telah melupakan “ penciptaaan nilai” ( creating value ), termasuk bagaimana mengukur suatu nilai secara tepat, atau dua-duanya ; menciptakan dan mengukur nilai secara tepat.  Hasilnya menjadi salah pemahaman antara investasi mana yang akan menciptakan nilai nyata,  dan akhirnya investasi tersebut memicu suatu krisis.

Karena itu, Saya ( Tim Koller ) percaya bahwa pembelajaran kembali bagaimana menciptakan dan mengukur suatu nilai dengan model yang benar dan teruji adalah langkah tepat dalam rangka mengamankan perekonomian mendatang, terutama mengatasi krisis yang sama.  Prinsip dalam memandu dari penciptaan nilai dengan modal atau nilai investasi yang digunakan investor harus mampu menciptakan laju arus kas diharapkan ( expected cash flow ), dimana tingkat pengembalian atas investasi ( rate of return ) tersebut melebihi biaya modal ( cost of capital ), sehingga mampu mengembalikan pinjaman secara tepat atau sesuai jadwal ( on schedule ).  Semakin cepat perusahaan dapat menambah pendapatan mereka dan menyebarkan secara luas dengan tingkat pendapatan yang menarik ( rate of return ), akan semakin cepat menciptakan nilai.

Kombinasai antara pertumbuhan ( growth ) dan pengembalian atas modal yang diinvestasikan ( Return On Invested Capital / ROIC )  akan memicu penciptaan nilai.  Perusahaan dapat mempertahankan pertumbuhan yang kuat dan tingkat pengembalian investasi yang menarik, apabila mereka mampu mendefinisikan tentang keunggulan bersaing, dan kemudian melaksanakannya. Keunggulan bersaing ( competitive advantage ) adalah merupakan konsep inti dari strategy bisnis, yang berhubungan dengan prinsip petunjuk untuk penciptaan nilai.

Konsekwensi atas prinsip petunjuk tersebut dikenal dengan “ conservation of value “ atau melestarikan nilai , yaitu segala sesuatu yang tidak menambah arus kas perusahaan , tidak akan menciptakan nilai. .1. Contoh , Ketika perusahaan merubah struktur modal dari ekuiti ( modal sendiri ) dengan hutang . atau untuk membeli kembali saham, hanya akan merubah kepemilikan dan tuntutan atas arus kas masuk perusahaan, tetapi tidak merubah ketersediaan dana atau arus kas ,2 . Lalu dalam kasus ini nilai harus dilestarikan, bukan diciptakan. Hal yang sama atas perubahan perhitungan dengan teknik akuntansi akan merubah tampilan dari arus kas, yang sebenarnya tidak mempengaruhi arus kas dan nilai  perusahaan. Prinsip ini telah teruji . Ekonom “ Alfred Marshall” bicara tentang “ the return on capital “ secara relatif terhadap biaya modal ( cost of capital ) dalam tahun 1890, 3. Disaat para manajer, dewan direktur, dan investor telah melupakan kebenaran sejati ini, konsekwensi akan  munculnya bencana atau krisis tersebut .

Bangkit dan jatuhnya para konglomerat bisnis di tahun 1970an, hostile takeovers di Amerika tahun 1980,  jatuhnya ekonomi Jepang di tahun 1990, krisis Asia Tenggara tahun 1998, the dot-com bubble di tahun  2000s, dan krisis ekonomi yang diawali tahun 2007 , semuanya bisa ditelusuri, yaitu salah pemahaman dan salah penggunaan terhadap prinsip-prinsip penciptaan nilai tersebut. Menggunakan prinsip yang tepat untuk menciptakan nilai, keduanya harus berjalan bersamaam, yaitu “ membutuhkan pemahaman atas ekonomi yang mampu menciptaan nilai “ , misalkan ; bagaimana keunggulan bersaing perusahaan akan mampu memperoleh ROIC yang lebih tinggi dari yang lainnya, dan “ proses mengukur nilai tersebut “, misalkan ; bagaimana menghitung ROIC dari laporan akuntansi perusahaan. Dengan pengetahuan ini, maka perusahaan dapat membuat keputusan operasional dan stratejik yang tepat dan bijak , antara lain perusahaan apa yang perlu dimiliki, dan bagaimana menghitung antara pertumbuhan ( growth ) dan pengembalian atas investasi  ( ROIC ) — dan tentunya para investor dapat lebih yakin dalam menghitung resiko dan tingkat pendapat atas invesatsi yang akan dilakukannya.

Tim Koller (Timothy_Koller@McKinsey.com) is a partner in McKinsey’s New York office.

Comment  ( Hendra S Raharjaputra ) :

Artikel yang sangat menarik !. Penciptaan nilai suatu perusahaan membutuhkan individu atau para eksekutif yang memahami tentang aspek keuangan dan akuntansi, mengapa ? karena dari mulai proses awal ( penyusunan anggaran ) hingga pelaksanaan dan pengendalian atas penciptaan nilai tersebut akan berkutat dengan masalah akuntansi dan keuangan. Perubahan atas tuntutan para pemilik perusahaan terhadap para eksekutifnya , bukan hanya mendulang keuntungan, tetapi mampu menciptakan nilai ekonomis perusahaan, suatu hal yang wajar. Apakah mungkin suatu perusahaan akan mampu menciptakan nilai dengan  para eksekutif yang tidak memahami basic akuntansi dan keuangan ? Saya sangat tidak yakin !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s