5. Apa sisi baik dan buruknya Vertical Integration ?

Dalam resesi saat ini , apakah perusahaan akan kembali ke solusi model Henry Ford ?

 

Oleh : Hendra S Raharjaputra

Juni 20,2009

Diposkan kembali : 22 Agustus 2011 ( HSFAMES Team )

Di sebagian awal abad 20 , dimana saat yang sangat berat bagi Ford Motor menghadapi anjloknya perekonomian yang sangat dalam, menurunnya pasokan bahan baku setelah perang dunia pertama , sangat mengganggu produktivitas di lini perakitan pabriknya. Jaringan pemasok sangat kecil, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dari pabrik ( Ford Motor ) pada saat dibutuhkan.

Henry Ford mencoba untuk melakukan Stock atau persediaan “ spare parts “ – onderdil dan bahan baku lainnya  untuk mengatasi pasokan yang mengganggu produktifitas, tetapi masalah lain muncul, yaitu biaya penanganan persediaan atau inventory costs yang tinggi. Untuk mengatasi masalah baru tersebut, Henry Ford memutuskan untuk melakukan “ Kontrol Total “ – menguasai Supply Chain atas semua pasokan ( Bahan Baku dan Spare Parts ) yang dibutuhkan Ford .

Pada akhir 1920 Henry Ford telah memiliki  usaha dibidang pertambangan biji besi dan batu bara, Perkebunan Karet, Penggergajian kayu , Angkutan, Hak Penguasaan Hutan, Tungku Pembakaran dan lainnya. Untuk mengatasi semuanya, Henry Ford memiliki suatu kawasan raksasa di River Rouge, Michigan untuk membuat “ spare parts “ dan perakitan mobil ( lihat foto ) .

Dewan kongres Amerika menentang solusi Henry Ford  melakukan “ Vertical Integration “ yang memang berhasil, tetapi yang paling mengkhawatirkan adalah solusi atau strategy tersebut hanya akan memuaskan sendiri, dan mencekik para pesaing yang menjalankan operasinya masih dengan model lama ( old fashion ).

Saat ini masalah “ supply chain “ telah menjadi global dan kompleks , khususnya dalam resesi perekonomian yang dihadapi oleh  hampir semua belahan dunia. Seorang Konsultan dari Bain & Company, Mark Gottfredson berpendapat masih banyak perusahaan terlalu percaya berlebihan kepada kemampuan model “ supply chain “ dalam mengatasi lambatnya pasokan. Bagi perusahaan yang bertumpu kepada “ cost basis “ saja ternyata mengalami kesulitan,  Contoh nyata adalah ribuan pabrik di China gulung tikar, beberapa pemasok besar di barat seperti Smurfit- Stone Container , pembuat cardboard  dinyatakan bangkrut ( chapter 11 bankruptcy protection ) bulan Januari lalu.

Beberapa perusahaan didunia yang sedang bergulat dalam kesulitan, apakah harus kembali ke model “ Henry Ford “ ? . Kenyataannya beberapa perusahaan sedang mengarah ke “ vertical direction “, diantaranya General Motor yang akan membeli kembali perusahaan pemasok spareparts “ Delphi “  yang telah bangkrut  ( Spun Off 1999 ), Pabrik baja China yang ingin  membeli kembali perusahaan tambang raksasa Rio Tinto ( lihat artikel dalam Strategy II – Rio reveals its Plan B ), dalam rangka mengamankan harga komoditi yang terus melambung.

Kini penganut “ Vertical Integration “ sedang mengembalikan  citra buruk atas kesan model tersebut, bahkan para lulusan MBA, yang masih menganggap model tesrebut masih mempunyai nilai , menyarankan kepada perusahaan untuk tetap focus kepada factor kekuatan  yang telah dimiliki perusahaan ( strengths and advantages ), daripada menghamburkan uang dan waktu untuk hal-hal yang belum pasti.

Para eksekutif atau operator bisnis , yang menginginkan suatu kekuatan control atas arus barang dan jasa, menganggap bahwa “ vertical integration ‘ masih akan menguntungkan perusahaan  . Hal yang tidak terpuji adalah disaat para raja penguasa ( baron )  menemukan sumber minyak dan bahan baku besi , yang menganggap bahwa penguasaan sumberdaya alam tersebut dimaksud untuk memperlemah daya saing  para pesaingnya.

Upstream – Downstream Strategy dalam Praktek 

      Dalam suatu bisnis “ apparel “ atau pakaian jadi, pemiliki merk lebih besar memperoleh keuntungan ( profit margin ) , dibandingkan dengan para pembuat atau yang menerima pesanan dari pemilik merk, misalkan ;  Zara – pemilik merek dari Spanyol yang membuat pakaian jadi , dalam dunia fotografi bukannya pembuat kamera yang mereguk keuntungan besar, tetapi pembuat memori card, seperti perusahaan “ ScanDisk “ ( kini diakusisi oleh Samsung – Korea ).

Tampak jelas sekali bagi perusahaan yang mampu mendekati para pembeli ( customer ) , semakin dekat akan semakin  mampu memahami keinginan dan selera pembeli , sehingga dengan konsentrasi kepada “ hilir “ ( downstream )  yaitu retailer, wholseller atau pembeli, maka “ manufacturing operations “ diserahkan kepada pihak ketiga yang telah teruji kemampuan pasoknya. Hal ini telah “ mengglobal “ dalam dunia bisnis, termasuk di Indonesia.   Resiko atas strategy tersebut cukup besar, misalkan pemogokan buruh, perubahan politik, negosiasi antara perusahaan manufacturing operations ( MO )  dengan pemegang merk  mengenai perubahan harga yang tidak cocok, dan lainnya, tetapi hal tersebut bisa saja terjadi di hampir semua negara, yang terpenting adalah kemampuan perusahaan atau pemegang merk mengidentifikasi faktor-faktor eksternal dalam merencanakan strategi yang tepat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s