4. Dampak buruk dari “ bad strategy “ ( Bag I – III )

“ Bad strategy abounds “ , demikian menurut professor manajemen dari UCLA Richard Rumelt .

JUNE 2011 • Richard Rumelt  ( Sumber : Mc.Kinsey Quarterly )

Diterjemahkan / diposkan  oleh : Hendra S Raharjaputra ( 18 August 2011 )

Laksamana Inggris Horatio Nelson memilik suatu masalah . Armadanya memiliki jumlah berlebihan  di Trafalgar dibandingkan  suatu armada dari  Perancis dan Spanyol  yang sedang berlayar menuju pertempuran, dimana  Napoleon telah memerintahkan  untuk mengganggu perdagangan Inggris dan mempersiapkan penyerangan antar terusan. Taktik yang lazimnya digunakan pada tahun 1805 adalah dimana dua armada berlawanan berada dalam satu line,  melakukan penembakan bergilir dari sisi yang lebih luas. Tetapi  Nelson memiliki suatu pandangan  stratejik ( strategic insight ) , bagaimana melakukan hal yang tepat dengan armada yang berlebihan tersebut. Ia membagi armadanya menjadi dua jalur atau kolom , dan mengendalikannya untuk menghadapi armada Perancis – Spanyol , dengan menembak atau  memukul dengan tegak lurus terhadap sasaran.  Armada Inggris memiliki resiko besar, tetapi Nelson mempertimbangkan bahwa para penembak- penembak  Perancis-Spanyol tidak akan mampu mengatasi gelombang ombak besar pada hari itu, dan itu merupakan musuh armadanya. Dengan kondisi seperti itu, maka tidak akan ada pertempuran besar bagi para penembak dan kapten Inggris yang memiliki pengalaman dan kemampuan lebih. Ia membuktikannya dengan tepat : Kapal Perancis dan Spanyol hilang sejumlah  22 kapal , dua per tiga dari armadanya, sementara Armada Inggris tidak ada yang hilang sama sekali.

Kemenangan Nelson merupakan suatu contoh klasik dari strategy yang tepat, yang mana selalu  melihat suatu masalah dengan simpel dan jelas dengan melakukan peninjauan kembali masalah tersebut . Strategy ini tidak menggunakan alat manajemen stratejik yang jelimet, matriks, ukuran ( triangle )  , atau menyusun skema pada kertas kosong.  Sebagai gantinya, seorang pemimpin yang cerdas dan berbakat telah mengidentifikasi masalah kritis tersebut hanya dari satu atau dua situasi yang paling kritis. Poin yang sangat penting adalah mampu melipat ganda kan efektifitas dari usahanya –  lalu aksinya fokus dan konsentrasi  dengan memanfaatkan sumberdaya yang dimilikinya. Suatu strategy yang baik lebih bermanfaat dari dorongan hati kita untuk mengejar “ goal “ atau melaksanakan misi yang jauh kedepan ; Strategy yang tepat secara jujur memahami tantangan nyata yang dihadapi, dan memberikan suatu pendekatan untuk mengatasi masalah tersebut.

Terlalu banyak para pemimpin organisasi merasa dan mengatakan  telah memiliki suatu strategy, yang kenyataan sebenarnya  tidak, atau istilah saya ( Richard Rumelt ) adalah  “bad strategy.” Bad strategy  mengabaikan kekuatan atas pilihan dan fokus dengan cara mengakomodasi suatu minat dan tuntutan yang berlebihan.  Ibarat seorang gelandang sepak bola ( play maker )  yang hanya menyarankan teamnya “ untuk menang “, tanpa aksi dan dukungan nyata . Bad Strategy hanya menutupi kegagalan dengan memberikan petunjuk yang merangkul semua istilah yang lebih luas dari goals, ambisi, visi dan nilai ( values ). Masing-masing elemen tersebut, tentunya merupakan elemen penting dari kehidupan manusia, tetapi bukan merupakan pengganti untuk melakukan kerja keras dalam implementasi suatu strategy yang tepat dan baik.

Dalam artikel ini, Saya ( Richard Rumelt )  mencoba memberikan garis besar tentang atribut yang berhubungan dengan “ bad strategy “ dan menjelaskannya mengapa hal itu sangat penting. Melakukan tanpa kesalahan : Merambat dan menyebarnya suatu bad strategy dalam suatu organisasi akan mempengaruhi kita semua , yaitu ;  beban berat atas goals dan slogans dari pemiliki perusahaan, kurangnya perhatian pemerintah untuk membantu pemecahan masalah. Banyak sekali yang harus kita lakukan , dari sekedar karisma, visi untuk mendapatkan “ good strategy “

Dalam bagin II  – III. Akan dibahas tentang ; Gambaran besar “ bad strategy “, Kegagalan menghadapi masalah, Menentukan tujuan akhir ( goals )  yang keliru dalam strategy , Sasaran  ( Objectives ) strategy yang keliru, dan lainnya .

About the Author

Richard Rumelt is the Harry and Elsa Kunin Professor of Business and Society at the UCLA Anderson School of Management. This article is adapted from his forthcoming book, Good Strategy/Bad Strategy: The Difference and Why It Matters (Crown Publishing, July 2011).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s